Popular Posts
- SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL
- KOLONIALISASI BANGSA EROPA DI AMERIKA
- TEUKU UMAR, BERDARAH MINANG KAH? ATAU BERDARAH ACEH?
- Temu ramah dengan Teuku Raja Tani Angsa di gunong kong
- PERANAN CHE GUEVARA DALAM PERJUANGAN MELAWAN OTORITER KUBA
- sistematika filsafat
- KEKUATAN- KEKUATAN SEJARAH
- PERANAN WANITA JAMAN DAHULU DAN ERA GLOBALISASI
- TINJAUAN KRITIS QANUN MEUKUTA ALAM
- SEJARAH ADAT PERKAWINAN ORANG ACEH
Blogger templates
Blogger news
Mengenai Saya
Pengikut
Total Tayangan Halaman
KPESN. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Rabu, 05 November 2014
untuk memulai tulisan ini ada satu ungkapan dari salah seorang tokoh dermawan, dia berkata" banyak sekali orang yang mengatakan politik itu kotor dan bangga akan mereka yang tidak berpolitik, namun apakah kalian berpikir bahwa biaya hidup kalian dan segala kehidupan kalian itu berasal dari politik, hanya orang bodoh yang mengatakan politik itu kotor ?"ini merupakan ungkapan dari beliau. kalimat diatas membuat kita berpikir apakah benar adanya bahwa segala kehidupan ini berasal dari politik?. kemudian muncul ungkapan dari seorang tokoh yang berasal dari indonesia yang bunyinya "politik itu memang kejam, namun ketika keadaan yang mengharuskan kita berpolitik maka terjunlah kedunia itu". hal ini membuat beberapa orang mungkin akan berpikir keras akan makna dari beberapa huruf itu. terkadang kita berpikir segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan hidup memang benar berasal dari politik tetapi ada kalanya kita enggan mengakuinya bahwa segala kebutuhan hidup tidak berasal dari politik melainkan hasil jerih payah sendiri.
Ada beberapa pertanyaan mungkin melintas di benak kita , yang pertanyaannya dari mana munculnya POLITIK itu? dari mana lahirnya? untuk apa fungsinya? apa efek dari si POLITIK ini bagi sebuah peradaban?. beberapa tulisan menyebutkan bahwa politik itu berasal dari yunani mengingat bangsa yunani merupakan bangsa yang banyak melahirkan pemikiran dan tokoh- tokoh yang berpengaruh di dunia. dalam bahasa yunani, politik itu adalah "polis" yang bisa diartikan negara. tetapi secara umum politik itu dapat diartikan sebagai alat pengatur sebuah negara baik itu berupa sistem, dan hal- hal lain yang dianggap perlu.
Dalam (http://sospol.pendidikanriau.com) ada Beberapa definisi berbeda oleh para ahli , misalnya:
• Menurut Bluntschli, Garner dan Frank Goodnow menyatakan bahwa ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari lingkungan kenegaraan.
• Menurut Seely dan Stephen Leacock, ilmu politik merupakan ilmu yang serasi dalam menangani pemerintahan.
•
Dilain pihak pemikir Prancis seperti Paul Janet menyikapi ilmu politik
sebagai ilmu yang mengatur perkembangan Negara begitu juga prinsip-
prinsip pemerintahan, Pendapat ini didukung juga oleh R.N. Gilchrist.
Ilmu politik secara teoritis terbagi kepada dua yaitu :
•
Valuational artinya ilmu politik berdasarkan moral dan norma politik.
Teori valuational ini terdiri dari filsafat politik, ideologi dan
politik sistematis.
• Non valuational artinya ilmu politik hanya
sekedar mendeskripsikan dan mengkomparasikan satu peristiwa dengan
peristiwa lain tanpa mengaitkannya dengan moral atau norma.
jadi, apa arti politik sebenarnya? kalau dari penulis , politik merupakan ilmu kemunafikan dan bisa dilakukan oleh siapa saja baik oleh mahasiswa ataupun para pejabat negara.kenapa demikian? karena banyak yang masih belum mengerti akan politik sehingga salah kaprah mengingat pada saat ini politik merupakan senjata ampuh yang digunakan oleh beberapa golongan untuk membangun atau menghancurkan.ketika berpolitik maka seseorang harus mengenal yang namanya tidak ada kawan sejati dan tidak ada musuh abadi.
bagaimana menurut para pembaca?
apakah bingung dengan tipu daya politik?
coba gunakan kepala anda..........
mohon maaf jika tulisannya kurang baik, baik secara isi ataupun yang lain- lain...
penulis hanya mengajak pembaca untuk ikut berpikir...
oleh Rizki Rasnawi
penulis merupakan alumni pendidikan sejarah Fkip Unsyiah, angkatan 2010.
Label:
FILSAFAT
|
0
komentar
Senin, 28 Januari 2013
1.
Ide gerak sejarah yang maju ke depan sering
dikemukakan para filosof yang cenderung mengukuhkan perbuatan manusia dan
pencapaian-pencapaiannya dalam sejarah. Mengenai asal ide kemajuan ini bisa
diacu pada pendapat-pendapat Bacon (Sahakian, 1968: 124-140)
dan Descartes (Snyder, 1955: 25-28), dua panji kebangkitan
ilmiah di Barat. Pada akhir abad ke-19 ide ini semakin tersebar luas, yaitu
pada waktu terjadi polemik antara para pengikut sastrawan dan kritisi lama
dengan sastrawan dan kritisi baru. Untuk mempertahankan sikap mereka, para
pengikut sastrawan dan kritisi baru terpaksa menuduh para pengikut sastrawan
dan kritisi lama bahwa mereka telah terperosok dalam khayalan pengukuran yang
keliru. Yakni pada waktu mereka memandang orang-orang yang lebih dulu dari
mereka sebagai orang-orang yang lebih kuat pikirannya. Padahal manusia apabila
ia semakin dewasa kebijakannya pun semakin matang dan orisinal, demikian halnya
kemanusiaan yang bersama perjalanan zaman semakin mengarah kepada kemajuan.
Jadi, apabila manusia yang terdahulu mempunyai kelebihan dalam
keterdahuluannya, maka manusia yang berikutnya mempunyai kelebihan dalam
kesempurnaannya.
Teori kemajuan ini kemudian tersebar dan
mempengaruhi bidang-bidang kegiatan manusia lainnya seperti politik, sosial,
seni, filsafat, dan sejarah, sehingga pada abad ke-19 kata kemajuan
memiliki berbagai makna. Di antara makna kata itu ada yang berkaitan dengan
“ide perkembangan yang memandang watak manusia sebagai hasil tertinggi proses
perkembangan itu sendiri”, dan oleh karena itu kemajuan historis juga
terkandung dalam watak itu. Makna kata ini ada pula yang berkaitan dengan
“filsafat denominasional”, di mana konsepsi kemajuan mengambil corak teori yang
integral dalam filsafat sejarah, seperti halnya yang kita dapatkan pada
beberapa filosof abad ke-19 seperti Karl Marx, Frederick
Engels, dan lain-lain, atau dalam “filsafat sosial” yang
diwakili oleh Auguste Comte dan John Stuart Mill.
Kemudian pada abad ke-20, teori kemajuan meraih berbagai dukungan dari kalangan
kaum Marxis, pragmatis, dan para penganut aliran eksperimental.
Sejak awal kemunculannya, teori kemajuan erat
kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Seruan para penganut teori ini pada dasarnya
ditegakkan di atas kemajuan yang diraih kamanusiaan dalam sebagian ilmu
pengetahuan yang membuat tersingkapnya sebagian hal yang tidak diketahui
sebelumnya, dan di antara hasilnya adalah masa pencerahan dengan optimisme dan
rasa percaya terhadap masa depan yang erat berkaitan dengannya, keinginan
untuk mengendalikan alam, peremehan masa lalu dengan segala khurafatnya, dan
keinginan untuk menguasai pembuatan sejarah.
Teori kemajuan ini oleh para pendukungnya
dideskripsikan sebagai suatu proses akumulatif sepanjang masa. Oleh karena
itu, orang-orang zaman modern, dengan sarana dan ilmu pengetahuan yang
mereka miliki, lebih maju ketimbang orang-orang zaman dahulu di bidang ilmu
pengetahuan dan industri. Oleh karena itu, kekaguman tidak logis terhadap
orang-orang dahulu tidak mempunyai landasan, dan kekaguman itu menurut mereka
merupakan batu penghalang jalan kemajuan manusia. Dengan pandangan yang
demikian ini, kemajuan adalah filsafat optimistis yang memandang kesempurnaan
manusia sebagai hal yang tidak terbatas dan sejarah manusia bergerak maju di mana
pengetahuan manusia menjadi semakin berkembang dan sedikit demi sedikit semakin
mendekati tujuan akhir masyarakat manusia, yaitu terealisasinya kebebasan,
kesempurnaan, dan penguasaan sepenuhnya atas alam.
Auguste Comte
termasuk kaum progresif yang memakai teori organis dalam menginterpretasikan
watak masyarakat. Menurutnya, masyarakat adalah kelompok organis kolektif, dan
seperti halnya berbagai fenomena dalam alam, matematika dan biologi tunduk di
bawah hukum-hukum tertentu, masyarakat juga, tegak di atas suatu hukum umum.
Berdasarkan hukum itu sendiri, misalnya, kita bisa membagi berbagai fase yang
dilalui peradaban menjadi tiga fase, yaitu fase
teologis, fase metafisis, dan fase positif. Hukum ketiga fase itu
diikhtisarkan Comte dari sejarah ilmu pengetahuan dan terpengaruh oleh tiga
klasifikasi yang dikemukakan Vico, seperti akan diuraikan
nanti dalam kajian ini. Ide kemajuan diperbincangkan Comte
dalam kerangka dinamisme sosial yang dipandangnya sebagai teori umum kemajuan
manusia yang secara ringkas, di antaranya, dinyatakan bahwa pada akhirnya
manusia akan mampu mengendalikan alam. Dalam filsafat Comte kemajuan
diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu kemajuan intelektual, kemajuan
material, dan kemajuan moral. Filsafat Comte itu terpengaruh oleh ide
perkembangan dalam ilmu pengetahuan alam, namun ia mempergunakan sejarah dalam
kajiannya tentang perkembangan intelek (pikiran) manusia dan fase-fase yang
dilaluinya.
Tampak bahwa para pemikir pada masa pencerahan
telah berupaya mencarikan landasan posisi manusia dalam alam fisik dan mereka
menganggap hukum-hukum sejarah adalah sama dengan hukum-hukum alam. Dari segi
lain mereka mempercayai kemajuan. Akan retapi landasan apakah yang bisa dipakai
untuk memandang bahwa alam adalah maju secara terus ke arah suatu tujuan?
Kesulitan ini dipecahkan Hegel dengan mengadakan pemilahan
yang ketat antara sejarah yang dipandangnya maju dan alam yang kehilangan corak
itu. Kemudian datang revolusi Darwinisme yang menyirnakan semua hal yang tidak
mengenakkan, yaitu dengan pandangannya bahwa perkembangan dan kemajuan
adalah sama: tampak jelas bahwa pada akhirnya alam adalah maju seperti sejarah.
Namun pendapat ini membuka pintu gerbang salah paham yang lebih berbahaya,
sebab ia memberi kesempatan terjadinya pencampuradukan antara warisan
biologis, yang membentuk sumber perkembangan, dan perolehan
sosial yang memben-tuk sumber kemajuan dalam sejarah”.
Demikianlah terbentuknya hubungan antara ide
perkembangan dan ide kemajuan dalam kalangan banyak peneliti, meski perkembangan
sendiri tidak lain adalah perombakan bio-fisiologis khusus bagi makhluk-makhluk
hidup sesuai dengan hukum seleksi alam, sementara kemajuan
adalah upaya yang sadar untuk memperoleh pola-pola baru dalam tingkah laku
individu dan masyarakat. Dari sini majunya kemanusiaan tampak merupakan hal
yang deterministis dan pasti. Malah, ia mudah direalisasikan apabila
masyarakat-masyarakat yang ada mampu mendayagunakan sebaik-baiknya
penemuan-penemuan ilmiah tentang prinsip-prinsip ekonomi dan hukum-hukum
perkembangan manusia, seperti halnya diungkapkan oleh kajian sejarah yang
ilmiah dan mendalam. Karena masyarakat manusia dan nilai-nilai moral yang luhur
maju sesuai dengan hukum-hukum ilmiahnya yang khusus, demikian halnya ilmu
pengetahuan kita akan semakin maju dengan semakin bertambahnya pengetahuan kita
tentang hukum-hukum alam. Sehingga kemanusiaan pun akan melangkah maju ke arah
masa depan cemerlang yang didasarkan pada penghormatan atas hak-hak individu
kemajuan ilmu pengetahuan, dan merea-lisasikan kebahagiaan pikiran, moral, dan
sosial tertinggi yang ditujunya.
Meski adanya harapan dan niat baik para pendukung
teori kemajuan dengan berbagai aliran filosofisnya, namun teori ini banyak
mendapat kritik. Sebagian ada yang berkenaan dengan metode penelitian yang dipakai
dan sebagian ada yang berkenaan dengan nilai-nilai yang mereka kemukakan.
Misalnya saja, seperti dikemukakan beberapa peneliti, kritik mereka yang keras
terhadap Zaman Pertengahan dengan norma-norma zaman modern. Demikian halnya
kritik keras mereka terhadap para agamawan telah melewati batas dengan
mengeritik agama itu sendiri, sebab dalam pandangan mereka agama bukan lagi
merupakan faktor penting dalam pembentuk kebudayaan. Kritik mereka terhadap
khurafat dan pikiran magis telah menyentuh pula ide agama. Yakni sewaktu mereka
memaksakan ide pembebasan diri dari kekuasaan gereja, mereka pun mencukupkan
ide kemajuan ini dengan manifestasi luarnya saja yang bertentangan dengan
agama, tanpa berupaya menda-lami konteks peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi
guna menyingkapkan perjalanan internalnya.
Dari segi lain, teori kemajuan mendapat kritik
dari para penganut relativisme historis yang meman-dang teori
kemajuan hanya sebagai salah satu pola organisasi sosial yang berupaya
menganalisis realitas dan mengorganisasikannya berdasarkan percobaan-percoba-an
masa lalu guna terjadinya perubahan yang lebih besar dan demi kebaikan sebanyak
mungkin anggota-anggota masyarakat. Jadi, kemajuan dalam pengertian yang
demi-kian ini merupakan suatu nilai moral yang lebih banyak mengandung suatu
sifat pengarahan dan perasaan tanggung jawab bersama daripada merupakan suatu
filsafat realistis tentang realitas sejarah dalam pengertiannya yang dikenal.
Sumber: al-Sharqawi, ‘Effat.
1406 H/1986 M. Filsafat Kebudayaan Islam (terjemahan
Ahmad Rofi’ Usmani dari Falsafah al-Hadharah al-Islamiyyah). Bandung: Pustaka.
Label:
FILSAFAT
|
0
komentar
Jumat, 11 Januari 2013
Sistematika
filsafat sejarah
A.
Kedudukan
dan peranan filsafat
1. Filsafat
dan pengetahuan
-
Kedudukan filsafat dalam pengetahuan
Apa
itu filsafat?
Filsafat
itu adalah pengetahuan. Untuk lebih muda memahami pengertiannya dan memantapkan
kepahaman, kita akan berkenalan lebih dahulu dengan filsafat sebagai ilmu
pengetahuan.
Adapun
pengetahuan yang dimiliki oleh umat manusia dapat dibagi dua jenis. Yang
pertama berasal dari manusia itu sendiri
yang ke dua berasal dari luar – manusia. Jenis yang kedua ini dianggap atau
dipercayai berasal dari pencipta manusia dan alam diistilahkan wahyu. Al- Kindi menyebut pengetahuan jenis
pertama itu pengetahuan illlahi, yang dasarnya keyakinan dan jenis kedua yaitu
pengetahuan manusiawi yang dasarnya pemikiran.
Jadi
ada dua jenis pengetahuan : pengetahuan manusia dan pengetahuan tuhan.
Pengetahuan manusia di bagi dalam tiga kategori yaitu :
-
Pengetahuan indera
-
Pengetahuan ilmu
-
Pengetahuan filsafat
Jawaban
semantik ( jawaban berdasarkan teori) tentang pengetahuan yaitu, pengetahuan
ialah apa yang dikena atau hasil dari pekerjaan tahu. Disamping pengetahuan manusia dan pengetahuan
tuhan ada lagi pengetahuan yaitu pengetahuan agaman. Pengetahuan ini berintikan
pengetahuan tuhan dan ulasan, keterangan , tafsiran, perincian yang berasal
dari pengetahuan manusia terhadap wahyu itu.
ü Jenis
agama ada dua yaitu :
agama budaya dan agama langit.
agama budaya dan agama langit.
ü Pengetahuan
hujan :
Kita lihat hari mendung , awan menebal .
tidak lama sesudah itu turunlah titik- titik air dari langit ke tanah . sampai
di tanah , titik-titik air itu menghilang . apabila air itu menitik dalam waktu
yang cukup lama terbentuk arus- arus kecil dipermukaan tanah, manakala bidang
tanah itu tidak rata. Apa itu hujan? Pengetahuan indera menjawab : hujan ialah
titik air yang jatuh dari arah langit kebumi , setelah hari mendung dan awan
menebal. Dan semua itu adalah hukum alam.
ü Dari
ilmu kepada filsafat
Ketika ilmu sampai ke batas
kemampuannya, pertanyaan itu diserahkan kepada filsafat. Hukum alam adalah
hokum materi- materi atau zat-zat .
Zat adalah hakikat dari segala yang ada. Ia adalah
awal dari segala- galanya dan tempat kembali ke segala-segalanya.
`jelaslah
bahwa pengetahuan indera ialah pengetahuan yang bersetumpu pada panca
indera,yang tokoh utama nya adalah otak dan tangan.
-
Pengetahuan ilmu : lapangan segala
sesuatu yang dapat diteliti , bataas nya sampai kepada yang tidak atau belum
dilakukan penelitian.
-
Pengetahuan filsafat : adalah segala
sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi ( rasio) , batasnya ialah batas alam,
namun demikian ia juga memikirkan sesuatu yang diluar alam.
Filsafat dalam islam:
-
Pengetahuan murni dari tuhan,
diistilahkan dengan wahyu , dikodifikasikan dalam bentuk Al- Qur’an.
-
Pengetahuan Nabi/ Rasul tuhan yang
berdasarkan atau lanjutan wahyu, diistilahkan Sunah – Hadis Nabi.
-
Pengetahuan Ulama, ahli piker atau
ilmiwan yang berasaskan, berpedoman , berkaitan dengan atau digerakkah oleh
wahyu dan hadis , merupakan hasil dari ijtihad.
1. Plato
: Plato mengatakan filsafat tidak lah lain dari pada pengetahuan tentang segala
hal yang ada.
2. Aristoteles
: filsafat ialah menyelidiki sebab dan asas segala benda.
3. Cicero
: filsafat adalah ilmu tinggi-tinggi saja dan jalan untuk mencapai ilmu itu.
Filsafata adalah induk segala ilmu.
4. Epicuros
: filsafat sebagai jalan mencari kepuasan dan kesenangan dalam hidup.
5. Kant
: filsafat adalah pokok dan pangkal
segala pengetahuan dan pekerjaan.
6. Leibniz
: filsafat diibaratkan dengan akar suatu pohon , maka dahan- dahan pohon itu
terjadi ilmu yang lainsatu demi satu.
7. Fichte
: filsafat adalah ilmu dari ilmu-ilmu.
8. Herbart
: filsafat ialah mengerjakan pengertian-pengertian dari ilmu –ilmu yang lain.
9. Paul
natorp : filsafat adalah ilmu dasar yang hendak menentukan kesatuan pengetahuan
manusia dengan jalan menunjukkan dasar akhir yang sama.
10. Win
delband : suatu keadaan atau hal yang nyata.
11. Al
– kindi : sebagai ahli pikir pertama dalam filsafat islam.
12. Al-
farrabi : filsafat sama tujuan dengan agama. Yaitu untuk mengetahui semua wujud.
Satu
definisi fiilsafat : filsafat ialah mencari kebenaran dari benaran untuk
kebenaran , tentang segala sesuatu yang di permasalahkan , dengan berpikir
secara radikal , sistematik dan universal.
Filosof
yaitu orang yang berani dalam pemikiran , selanjut nya berani dalam sikap hidup
dan pandangan dunia sebagai hasil dari pemikiran itu sendiri.
Ciri-ciri
berpikir filsafat :
-
Radikal : berpikir secara tidak
tanggung-tangung, tau konsekuensi.
-
Sistematik : berpikir logis , yang
bergerak selangkah demi selangkah.
-
Universal ; tidak hanya berpikir umum,
mealinkan mereka juga memikirkan yang khusus.
B.
Peranan
filsafat
2. Sumber
filsafat
Awal
mula filsafat di barat . di barat yang mula- mula brfilsafat orang yunani .apa yang
menggerakkan mereka berfilsafat ? Plato mengatakan bahwa filsafat muali dengan
ketakjuban , dengan keheranan , hanya manusia yang dapat takjub.
Filsafat tafsiran :
filsafat sesungguhnya adalah tafsiran kenyataan.
Sejarah filsafat yaitu sejarah perkembangan manusia.
Dapat pula ia dikatakan kesangsian manusia dalam usahanya mencari kebenaran
dari kebenaran. Jalan sejarah tidak selalu lurus. Kadang –kadang ia berbelok
kembali kebelakang.
Garis teori ilmu dan filsafat : teori-teori ilmu menempuh
garis lurus . teori teori filsafat dapat menempuh garis melengkung, dan kembali
kepada jalan , yang pernah di tempuh nya dengan cara baru. Ilmu berada dalam
pengalaman dan pemikirann. Filsafat berpikir diatas pengalaman.
-
Fakta : sesuatu yang sesungguhnya
terjadi atau berujud.
-
Pengalaman : mengetahui atau mempelajari
melalui tindakan atau reaksi sendiri.
Ø Ilmu
dapat kita bagi dua :
·
Ilmu murni, yang bersifat teori.
·
Ilmu terapan, yang bersifat praktek.
Hubungan ilmu dengan
filsafat
v Hubungan
erat antara keduanya. Perkembangan ilmu harus bersama – sama dengan filsafat ,
bahkan ada menyamakan filsafat dengan ilmu.
v Filsafat
tidak berkaitan dengann ilmu. Ia otonon dan tidak mau di peralat oleh ilmu.
3. Filsafat
dan kebudayaan
- Manusia dan kebudayaan
Titik persamaan definisi-definisi yang dirumuskan oleh
alhli-ahli manusia.berdasarkan definisi itu dapat disimpulkan bahwa soal
kebudayaan adalah soal manusia.
Teori cultural
universal / segi kebudayaan.
-
Kuntjaraningrat misalnya membagi
kebudayaan dalam tujuh faset, yaitu : peralatan dan perlengkapan hidup manusia,
mata pencaharian, dan sistim ekonomi, system kemasyarakatan , bahasa, kesenian,
ilmu pengetahuan dan religi.
-
Hoijer membaginya lima: teknologi,
ekonomi, organisasi social, religi dan kebudayaan lambang.
·
Peranan filsafat dalam segi-segi
kebudayaan .
Bagaimana
posisi dan peranannya terhadap kebudayaan menyeluruh, demikian pula terhadap
segi- segi kebudayaan ; social ,ekonomi, politik, ilmu dan teknik, seni.
Sebagaimana segi-segi kebudayaan lain di pengaruhi , bahkan deiarah kan
perkembangannya oleh filsafat , demikian pula seni , banyak sekali pandangan
dan sikap dunia hidup mempengaruhi atau mengarahkannya.
4. Filsafat
dan kebudayaan
·
Etimologi agama : agama berasal dari
bahasa sankskerta . akar kata a-gam-a ialah gam
, yang berarti pergi atau berjalan.
·
3 ciri religi
-
Percaya pada yang kudus.
-
Melakukan hubungan dengan yang kudus
itu dengan rius ,kultus dan permohonan.
-
Doktrin tentang yang kudus dan hubungan
itu.
·
Agama dan kebudayaan.
Agama
itu bukan dari kebudayaan islam. Tetapi kalu kita berbicara tentang agama bukan
islam., islam dapat menerima teori ilmu.
Ada
dua kategori agama yaitu
-
Agama budaya
-
Agama langit
Agama
budayalah yang lahir dalam kebudayaan.
·
Ciri- ciri agama budaya
-
Tidak disampaikan oleh Nabi atau Rasul
tuhan, tidak dapat dipastikah lahirnya.
-
Tidak memiliki kitab suci yang
diwariskan oleh Nabi / Rasul tuhan.
-
System merasa dan berpikir agama inheren
dengan system merasa dan berpikir tiap segi kehidupan.
-
Berubah dengan perubahan mentalitas
masyarakat yang menganutnya .
-
Kebenaran prinsip ajran agama tak tahan terhadap kritik akal;
mengenai alam nyata dibuktikan ilmu kekeliruan nya ; mengenai alam gaib; tak
termakan oleh akal.
-
Konsep ketuhanannya bukan serba esa
tuhan.
·
Cirri –cirri agama langit
-
Disampaikan oleh Rasul
-
Memiliki kitab suci yang di wariskan
Rasul Tuhan
-
System merasa dan berpikirknya tidak
inheren dengan system merasa dan berpikir tiap segi kehidupan masayarakat yang menganutnya , bahkan
dikehendaki system merasa dan berpikir tiap faset kehidupan , takluk atau
mengarah kepada sistem berpikir dan merasa agama.
-
Tidak berubah dengan perubahan
mentalitas masyarakat yang menganutnya, malah seballiknya justru merubah
mentalitas penganutnya.
-
Kebenaraan prisip ajaran agama tahap
terhadap kritik akal; mengenai alam nyata, mana kala ilmu sampai keujung
perkembanganya, terbukti kebenaran ajaran itu; mengenai alam gaib diterima oleh
aqal.
-
Konsep ketuhanannya serbaesa Tuhan
murni.
Filsafat
adalah pokok jebodohan dan penyelewengan bahkan kebingungan dan kesesatann.
Ibnu
Rusyd membela filsafat dengan menunjukkan fungsi filsafat sebagai penyelidikan
alam ujud dan memandang nya sebagai
jalan unutk menemukan yang menciptakannya . filsafat adalah karya seluruh
umat manusia oleh semua angkatannya , karya mana dimulai oleh buku yunani,
manakalah lapangan ilmu dan teknik tidak mungkin diselesaikan oleh seorang diri
semata-mata , apalagi filsafaat sebagai induk dari segala ilmu. Aqal dan wahyu
jadi sumber pengetahuan dan alat untuk mencapai kebenaran . demikian pendapat
umum filosof.
-
Tujuan ilmu filsafat agama
·
Dalam ilmu tujuan itu hanya teori atau
pengetahuan demi pengetahuan
·
Dalam filsafat tujuan itu ialah cinta
kepada pengetahuan yang bijaksana, dengan hasil kedamaian dan kepuasan jiwa.
·
Dalam agama tujuan itu damai, demi
kesemibangan , penyeseuaian , keselamatan , dirangkum dengan satu istilah dalam
islam salam.
-
3 pembagian alam
·
Alam nyata yaitu yang dapat diamati ,
diriset dan dieksperimenkan adalah lapangan ilmu.
·
Alam gaib idhafi, yaitu alam yang masuk
kedalam pengalaman manusia , tapi masih belum berhasil ilmu meriset atau
mengekseperimenkan.
·
Alam gaib hakiki yaitu alam yang tak
mungkin diamati , diriset atau diekperimenkan
oleh manusia ( akhirat) , masuk lapangan agama.
Persamaan filsafat dan
agama yaitu masing-masing merupakan sumber nilai, terutama nilai etika.
Label:
FILSAFAT
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)